Selasa, 19 Januari 2010

NYERI PADA LANSIA

NYERI PADA LANSIA

Nyeri biasanya diawali dengan stimulus sensorik kemudian dibedakan oleh memori, pengharapan, emosi dan perilaku seseorang. Persepsi nyeri dan respos psikologis pasien terhadap nyeri kompleks. Kepercayaan yang tersebar luas mengenai penuaan menyebabkan penurunan sensivitas nyeri atau peningkatan toleransi nyeri tidak memiliki dukungan ilmiah, namun diketahui lansia dengan infark miokard dan katostrop intra abdomen tidak merasakan nyeri.
1. Insiden dan Penyebab
- Beberapa penelitian menunjukkan 25% sampai 50% lansia yang tinggal dalam komunitas menderita masalah nyeri yang penting dibandingkan dengan 45% sampai 80% lansia yang tinggal di panti werdha.
- Kanker merupakan sumber nyeri hebat di kalangan lansia dan banyak lansia yang menderita akibat penyakit vaskuler periver yang nyeri, herpes zoster, atritis, temporal, sumber nyeri dan lainnya adalah kram tangkai, sakit kepala dan lain-lain.
2. Akibat Nyeri
Depresi, berkurangnya sosialisasi, gangguan tidur, hambatan ambulasi dan peningkatan kebutuhan terhadap perawatan kesehatannya dan bahaya akibat nyeri, penurunan kebugaran, gangguan gaya berjalan, jatuh, rehabilitasi, lambatnya malnutrisi.


3. Cara Mengatasi Nyeri
a. Dengan obat analgesik
- Berikan obat melalui oral jika mungkin
- Mulai dengan pemberian analgesik non-narkotik, seperti asetaminofen atau aspirin setiap 4-6 jam sesuai program.
- Jika pasien membutuhkan pereda nyeri lebih banyak daripada analgesik non-narkotik berikan tunggal atau dalam kombinasi dengan obat anti-inflamasi non steroid lainnya.
- Berikan obat 30 menit sebelum aktivitas
b. Tindakan penyamanan
- Ubah posisi pasien setiap 2 jam untuk mengurangi spasme otot dan tekanan serta untuk meredakan tekanan pada penonjolan tulang.
- Berikan masase punggung pada pasien untuk membantu merelakskan otot-otot yang tegang.
- Gunakan lation/pelembab untuk melumasi kulit yang kering.
- Lakukan latihan rentang pergerakan sendi pasif untuk mencegah kekakuan dan kehilangan mobilitas lebih lanjut untuk merelakskan otot-otot yang tegang dan memberikan kenyamanan.
- Berikan higiene mulut
c. Terapi kognitif
- Dengan cara meningkatkan efek analgesik dengan menggunakan tehnik seperti distraksi, imajinasi terbimbing, nafas dalam dan relaksasi.
- Ketika menggunakan distraksi, minta pasien mengingat kembali pengalaman yang menarik atau menyenangkan.

- Ketika menggunakan imajinasi terbimbing bantu pasien berkonsentasi pada imajinasi yang damai dan menyenangkan.
- Ketika menggunakan nafas dalam, minta pasien menatap sebuah benda dan kemudian dengan perlahan melakukan inspirasi dan ekspirasi saat dia menghitung dengan keras untuk mempertahankan laju serta irama yang nyaman.
- Ketika menggunakan relaksasi otot, minta pasien berfokus pada kumpulan otot tertentu, kemudian minta dia menegangkan ototnya dan merasakan sensasi tersebut. Setelah 5 sampai 7 detik, minta pasien untuk merelakskan otot tersebut dan berkonsentrasi pada keadaan relaks.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar